Rencana Rekayasa Budaya Disbud Riau terhadap Tanjak
Siberriau PEKANBARU - Untuk mewujudkan Visi dan Misi Pembangunan Provinsi Riau, perlu Rekayasa Budaya, meliputi Diplomasi, Pemgembangan Teknologi dan Publikasi Budaya melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Riau merupakan salah satu implementasinya. Implementasi itu diantaranya, akan menggelar Jogja Bertanjak.
Visi Pembangunan Provinsi Riau "Terwujudnya Provinsi Riau sebagai Pusat Perekonomian dan Kebudayaan Melayu dalam Lingkungan Masyarakat yang Agamis, Sejahtera Lahir dan Batin, di Asia Tenggara Tahun 2025", tidak ringan untuk diwujudkan.
Ada visi yang visioner, salah satunya mewujudkan Provinsi Riau sebagai Pusat Kebudayaan Melayu di Asia Tenggara Tahun 2025.
Sekarang sudah Tahun 2023, yang menjadi pertanyaan bersama, apakah Riau sudah menjadi Pusat Kebudayaan Melayu di Asia Tenggara, atau bentuk nyata apa yang dilakukan setakat ini untuk mewujudkan visi itu.
Dalam misi, poin ke-8, mewujudkan kebudayaan Melayu sebagai payung kebudayaan. Ini juga perlu dipertajam maksudnya. dan Impelemtasinya sejauh mana.
Wajar saja, Pemerintah Provinsi Riau, menjadikan Dinas Kebudayaan menjadi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang berdiri sendiri, karena mengemban dan harus mewujudkan visi dan misi yang berat, namun penuh optimisme.
Melalui tangan dingin dan kepiawaian Kepala Dinas Kebudayaan Yoserizal Zen, visi dan misi itu, secara bertahap terus diwujudkan digesa.
Salah satunya, rencana menggelar Yogya Bertanjak. Sepintas memang memang dua kata singkat, namun memiliki makna yang dalam dan sangat panjang untuk diuraikan.
Tanjak Melayu
Dalam laman jadesta.kemenparekraf.go.id ditulis, tanjak merupakan topi khas Melayu Siak, Riau. Dahulunya, topi ini dipakai oleh para bangsawan Melayu, dan seiring berjalannya waktu tanjak dapat dipakai oleh seluruh masyarakat, terutama masyarakat Sungai Mempura agar membangkitkan kembali kecintaan masyarakat pada tradisi lama.
Tanjak terbuat dari kain songket dan kain tenun, yang merupakan kain ciri khas melayu. Tanjak dibuat oleh masyarakat kampung melayu untuk dipakai oleh masyarakat dan dijual sebagai oleh-oleh untuk pengunjung dengan harga kisaran 50.000-155.000 tergantung model dan bahan yang digunakan.
Kampung melayu juga menyediakan paket wisata pembuatan tanjak dengan berbagai model sehingga bisa menjadi kreatifitas pengunjung dan memberi pengalaman terbaru.
Waktu terus berjalan, mediacenter.riau.go.id mempublikasikan, Kementerian Hukum dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) RI telah resmi mencatat Tanjak Riau dalam Pusat Data Kekayaan Intelektual Komunal Indonesia. Hal ini bertujuan untuk perlindungan Pengetahuan Tradisional (PT) berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 tentang Hak Cipta.
Pencatatan itu sesuai surat pencatatan inventarisasi Kekayaan, Intelektual Komunal Indonesia, Nomor PT14202100033, Kemenkumham telah mendokumentasikan dan mengarsipkan Tanjak Riau.
Surat pencatatan inventarisasi Kekayaan, Intelektual Komunal pengetahuan tradisional Tanjak Riau, telah diberikan oleh Direktur Kerjasama dan Pengembangan Kekayaan Intelektual, Kemenkumham, Daulat Silitonga kepada Pemprov Riau.
Dalam Surat itu disebutkan, Tanjak Riau masuk dalam jenis pengetahuan tradisional, yakni kemahiran membuat kerajinan tradisional, makanan/minuman tradisional, moda transportasi tradisional. Ditandatangani oleh Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kemenkumham RI, Dr Freddy Harris.
Tanjak Terus Dijaga
Berbagai pihak termasuk kalangan universitas di Riau terus menjaga, agar tanjak terus terjaga. riau.go.id menulis, Gubernur Riau, Syamsuar menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) dalam menjaga kebudayaan Melayu, seperti yang dilakukan dengan membuat Tanjak terbesar di Indonesia dan meraih rekor MURI.
Hal itu disampaikan dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Kepala Dinas Kebudayaan Riau, Yoserizal Zein dalam kegiatan pembukaan pekan Budaya dan Wirausaha sekaligus pemberian penghargaan rekor MURI untuk kategori pembuatan Tanjak terbesar di Indonesia, Ahad (31/3/2019) di kampus UMRI, jalan Tuanku Tambusai Ujung Pekanbaru.
Terlebih UMRI juga merupakan Universitas yang konsen dalam menciptakan entrepreneurship sejak beberapa tahun terakhir. Hal ini sangat sejalan dengan program Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau yang sangat memperhatikan ekonomi kreatif yang dilakukan masyarakat.
"Kita sangat mendorong pelaku-pelaku usaha ekonomi khususnya dari para generasi muda, seperti yang dilakukan UMRI. Ini adalah sebuah terobosan baru yang sangat kita apresiasi, kegiatan ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berbasis budaya," kata dia.
Hal ini menurut Gubernur juga sangat mendukung Pemerintah Provinsi Riau dalam mengembangkan sektor wisata, dimana Tanjak merupakan salah satu artefak kebudayaan Melayu yang sempat terpinggirkan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Tanjak ini menjadi tren yang tidak hanya dipakai oleh para tetua, tetapi juga para generasi muda.
"Bahkan, melalui kreatifitas yang mereka buat, saat ini terdapat berbagai macam jenis Tanjak, yang berada ditengah masyarakat Riau. Kondisi ini tentu sangat positif bagi Riau, khususnya dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan Melayu," tukasnya.
Sementara Ketua Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Al Azhar juga mengapresiasi apa yang dilakukan UMRI dengan membuat Tanjak terbesar di Indonesia.
"Semoga UMRI tetap terdepan dalam mempertahankan kebudayaan Melayu dalam artian mengembalikan nilai-nilai kebudayaan Melayu dalam kehidupan sehari-hari dan artefak," kata Al Azhar saat menyampaikan sambutan.
Tanjak, dipaparkan Al Azhar memiliki nilai tinggi dalam Melayu. Dari letaknya di kepala, maka tanjak berhubungan dengan fungsi kepala dari yang teratas bagian tubuh. Kepala merupakan simbolisasi dari kehormatan bagian tubuh.
Disebutkannya, dari inventarisir yang dilakukan Alm H Tennas Effendi, terdapat 76 jenis tanjak Melayu Riau. Jumlah itu jika sekarang di inventarisir, tentu akan lebih banyak lagi jumlahnya. Hal itu dikarenakan semakin kreatifnya kaum milenial Melayu dalam membuat berbagai jenis Tanjak di negeri ini.
"Bahwa budaya melayu itu tidak akan hilang di bumi, karena ada anak-anak melayu yang akan terus mempertahakan dan yang lebih membanggakan adalah akan terus menciptakan inovasi-inovasi dalam memajukan dan mengembangkan budaya Melayu ini," pungkasnya.
Disbud Riau Akan Gelar Jogja Bertanjak
Implementasi mewujudkan visi misi pembangunan Provinsi Riau dan pentingnya tanjak bagi Riau, maka Dinas Kebudayaan akan menyelenggaraan Jogja Bertanjak dengan mengusung tema "Kolaborasi Budaya untuk Bangsa" di Yogyakarta pada tanggal 12 - 14 Maret 2023. (Advertorial Disbud Riau/Noprio Sandi)
Sumber
https://jadesta.kemenparekraf.go.id/paket/tanjak_melayu
https://mediacenter.riau.go.id/read/62404/tanjak-riau-telah-tercatat-dalam-pusat-data-k.html
- MTQ XLIV Riau Ditutup
- KPK Tangkap Tangan Tersangka Dugaan Suap Jabatan di Pemkab Kuansing
- Siberriau.com Ucapkan Selamat dan Sukses atas Kenaikan Pangkat Aipda Benny Simbolon
- Wabup Syafaruddin Poti Apresiasi Polri Perkuat Kebersamaan dengan Masyarakat
- Polsek Kepenuhan dan Wartawan Perkuat Kemitraan Demi Kondusivitas Wilayah
- Pertamina Hulu Rokan Serahkan Bantuan Penerbitan Buku Karya Rahmat Pantun di Rohil
- Daulat Wathan Negeri Rokan Hilir, Menjaga Tanah Warisan dari Tantangan Modernitas

