Fly Over, Solusi Banjir Pelalawan

Bupati Pelalawan Zukri saat meninjau banjir di KM 83 Senin (27/1/2025). Foto: web.pelalawan.go.id

Siberriau-PELALAWAN- Dua tahun terakhir, KM 83 Pelalawan menjadi sorotan nasional. Pasalnya jalan lintas Sumatra itu digenangi banjir yang membuat mobil yang mau ke Pulau Jawa dan sebaliknya tidak bisa lewat, bahkan harus menunggu sampai berhari-hari. Ruas yang terendam cukup dalam dan panjang. Semua pihak kelimpungan.

Pemandangan dan informasi yang beredar sangat memprihatinkan, mereka yang terjebak sampai berhari-hari, bahkan untuk tonase berat dan kendaraan yang rendah, tidak bisa lewat sama sekali, kelaparan menghantui, akses terputus, ekonomi lumpuh, sarana penghubung antara Sumatra dan Jawa di tempat ini lumpuh total.

Kondsi ini telah menjadi permasalahan nasional sehingga pihak terkait melakukan peninjauan, berdiskusi untuk mencari pemecahan dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Termasuk Pemerintah Kabupaten Pelalawan sebagai lokasi bencana harus bekerja keras dibuatnya.

Bupati Pelalawan Zuhri terlihat mengarungi banjir itu, dia merasa prihatin dengan kondisi yang dialami masyarakat Pelalawan sendiri yang memang membutuhkan akses lokal begitu juga masyarakat Indonesia yang memang kebetulan melewati ruas itu. Semua kekuatan Pelalawan dikerahkan, tidak hanya Organisasi Perangkat Daerah (OPD) setempat, instansi vertikal di sana juga bekerja sama.

Untuk tahun 2025, banjir parah ini terjadi hingga dua kali, ini kembali menjadi sorotan seperti benang kusut yang belum ada solusi, melainkan hanya pasrah dengan keadaan alam. Pemicu yang muncul dibukanya pintu PLTA Koto Panjang dan curah hujan yang tinggi.

Kondisi Alam Kuala Kampar, DAS Kampar dan Pangkalan Kuras 

Kuala Kampar berada di sebelah timur Provinsi Riau, hampir seluruhnya lahan basah (96%). Kuala Kampar sebagai suatu kawasan yang memiliki hutan rawa gambut. Memiliki beberapa kawasan konservasi yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, dikutip dari Overview of the Status of Natural Forests in Kuala Kampar, Riau, Sumatra, Indonesia: Proposed Expansion of the Peninsula’s Existing Conservation Areas.


 
Kecamatan Pangkalan Kuras Kabupaten Pelalawan merupakan salah kawasan yang berada di Kuala Kampar. Kawasan ini menjadi sorotan, teruma jalan nasional KM 83 karena dua tahun terakhir ini mengalami banjir sehingga arus transportasi terputus. Kecamatan Pangkalan Kuras merupakan sebagian kecil wilayah di Kabupaten Pelalawan Peovinsi Riau. Bencana Hidrometeorologi  yang dihasilkan memiliki dampak kerugian material dan kerugian non material seperti kehilangan mata pencaharian, korban jiwa, kerusakan lahan, habitat terancam, dan gangguang interaksi kegiatan manusia. Terbaginya menjadi dua kawasan akhir seperti kawasan potensial mencapai 160.985 ha dan kawasan limitasi mencapai 43.889 ha. Kondisi ini dapat dikembangkan pada berbagai sektor untuk menunjnag peningkatan perekonomian masyarakat dengan meminimalkan kerugian dari berbagai bencana hidormeteorologika, dikutip dari Analisis Wilayah Potensial dan Limitasi Berbasis Kawasan Rawan Bencana di Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan.


 
Terjadinya banjir di Pangkalan Kuras ini tidak terlepas dari pengaruh air dari bagian hulunya di Kabupaten Kampar. Kabupaten Kampar merupakan daerah yang mempunyai waduk pembangkit listrik tenaga air besar di Provinsi Riau, yaitu Waduk PLTA Koto Panjang yang berfungsi mengatur debit aliran masuk dan keluar. Permasalahan yang terkadang terjadi adalah curah hujan yang tinggi sehingga debit aliran masuk tidak dapat lagi ditampung oleh waduk. Berdasarkan hasil analisis diperoleh debit air maksimum sebesar 1.911 m3/s. Selain itu, penelitian ini memberikan hasil identifikasi potensi wilayah genangan banjir pada lokasi yang menjadi objek penelitian saja yang menjadi gambaran untuk imbasnya ke Pangkalan Kuras, yaitu genangan seluas 997,66 ha dengan sebaran luas berdasarkan kedalaman genangan 1 meter meliputi luas 168,06 ha, kedalaman 2 meter seluas 230,85 ha, kedalaman 3 meter 256,03 ha, kedalaman lebih dari 3 meter 342,72 ha, dikutip dari Analisis Genangan Banjir Akibat Pola Operasional Waduk PLTA Koto Panjang Berbasis Sistem Informasi Geografis.


 

Banjir KM 83 Pelalawan Jadi Sorotan

Mediacenter.riau.go.id 27 Januari 2025 merilis dua daerah di Provinsi Riau masih terdampak banjir. Kedua daerah itu, yakni Kabupaten Kampar dan Pelalawan. Banjir di wilayah tersebut akibat dampak dari pembukaan pintu waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang dan masih tingginya hujan lokal di daerah setempat.

“Perkembangan banjir di Riau sekarang tinggal dua daerah lagi yang terdampak, yakni Kabupaten Kampar dan Pelalawan,” kata Kepala Badan Penanggulangan Becana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Provinsi Riau, M Edy Afrizal melalui Kabid Kedaruratan, Jim Ghafur, Senin (27/1/2025).

Ditututpnya pintu PLTA baru berdampak kepada surutnya banjir di Buluh Cina dan Jalan Lintas Timur KM 83 dan diprediksi banjir akan terjadi hingga Maret 2025. Di bulan Januari 2025, banjir di KM 83 ini menjadi sorotan.

Bulan Maret 2025, kawasan Lintas Timur KM 83 Pelalawan kembali menjadi sorotan akibat banjir. Ketinggian air terus meningkat akibat luapan PLTA Koto Panjang, menyebabkan terganggunya arus lalu lintas.

Kapolsek Pangkalan Kuras, AKP Tatit Hanafi Rabu (12/3/2025) menjelaskan, banjir parah itu sudah terjadi selama lima hari dan makin parah dan meluas, bahkan mengkhawatirkan. “Untuk mobil sedan dan sejenisnya tidak dianjurkan melintas karena bisa membahayakan pengemudi dan bisa mogok. Sehingga merugikan diri sendiri dan pengendara lain,” kata Tatit kepada MC Riau.

Ketinggian air mencapai 57 cm, terutama di KM 83 Pangkalan Kuras, KM 78 (Simpang Jalntim-Jalan Lingkar) Pangkalan Kerinci ketinggian berkisar antara 25-30 cm. Akibatnya, sistem buka tutup terpaksa diberlakukan untuk mengatur lalu lintas.

Banjir ini tidak hanya menganggu arus lalu lintas, tetapi juga aktivitas masyarakat sekitar. Banyak rumah dan lahan pertanian yang terendam air. Pemerintah daerah dan pihak terkait terus berupaya untuk memberikan bantuan kepada warga yang terdampak.


  
Pemerintah Kabupaten Pelalawan telah mengambil langkah tanggap darurat dengan menyediakan dua unit truk fuso utnuk membantu pegendara roda dua yang kesulitan melitnasi banjir.

Truk pertama, milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pelalawan dengan Nomor Polisi (Nopol) BM 8049 C, dan truk kedua, bernopol BM 8216 IU, disediakan oleh PT Husni Tamrin Kerinci, anak usaha HT Grup, perusahaan milik Wakil Bupati Pelalawan H Husni Tamrin.

Kedua truk ini mampu mengangkut hingga 25 sepeda motor dalam sekali jalan. Layanan gratis ini diresmikan langsung oleh Wakil Bupati Pelalawan H Husni Tamrin, yang didampingi Kapolres Pelalawan, AKBP Afrizal Asri. “Kami menyediakan layanan ini untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak banjir,” kata H Husni Tamrin, dikutip dari mediacenter.riau.go.id.

Sementara itu, seorang sopir travel Pekanbaru-Sorek, biasa disebut Pak Yus ketika diwawancara dalam perjalan pulang ke Pekanbaru menggambarkan betapa parahnya banjir di KM 83. Dirinya hanya bisa membawa penumpang sampai ke Pangkalan Kerinci kalau memang ada penumpang yang lebih jauh, terpaksa dipindahkan ke mobil lain yang lebih tinggi.

Pak Yus juga menyaksikan sendiri kondisi tragis yang terjadi, di mana ancaman kelaparan menghantui sopir dan penumpang. Dia menceritakan kalau sejumlah mobil terjebak hingga berhari-hari di lokasi banjir dan tidak melanjutkan perjalanan sama sekali.

Fly Over Sebagai Solusi

Menanggapi kondisi banjir di KM 83 Pelalawan ini, Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Riau, Yohanes Tulak mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan beberapa langkah penanganan. Dalam jangka pendek, pengaturan lalu lintas dengan sistem buka tutup telah diterapkan, dan tanda pembatas jalan dipasang untuk memastikan kendaraan tetap berada di jalur yang aman.

“Untuk mengantisipasi lonjakan lalu lintas saat libur panjang, jalur alternatif melalui Simpang Japura-Kuantan Singingi telah dipersiapkan,” ujar Yohanes Jumat (24/1/2025), diktuip dari mediacenter.riau.go.id.

Disampaikannya juga bahwa BPJN bersama Balai Wilayah Sungai serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengadakan rapat virtual untuk membahas modifikasi cuaca dan pengaturan pintu air Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang.

Namun, penurunan pintu memerlukan waktu 3-4 hari untuk berdampak, tergantung curah hujan.

Sebagai solusi jangka panjang, Yohanes mengusulkan pembangunan fly over di jalan lintas tersebut untuk mengantisipasi banjir yang berulang dan meningkatkan efisiensi transportasi.

“Jika banjir ini menjadi masalah tahunan, maka pembangunan fly over adalah solusi yang kami usulkan kepada Kementerian PUPR,” kata Yohanes.

Banjir yang melanda kawasan ini menjadi pengingat akan pentingnya perhatian terhadap infrastruktur di daerah rawan bencana untuk meminimalkan dampak ekonomi dan sosial di masa mendatang.

Bupati Pelalawan Zukri Senin (27/1/2025) sempat meninjau kondisi banjir di KM 83, saat itu banjir mulai surut dengan kedalaman 42 cm karena pintu PLTA Koto Panjang sudah ditutup total. Dia berharap segera turun.

“Hari ini ketinggian air berada pada 42 cm, semoga hari Rabu badan jalan mulai terlihat agar pengendara bisa melintas dengan nyaman dan aman. Karena jalan masih terendam, maka diberlakukan sistem buka tutup sehingga saya meminta agar pengendara dapat sabar menunggu antrian agar semuanya dapat selamat sampai tujuan,” jelasnya, dikutip dari web.pelalawan.go.id.

Bupati mengimbau kepada seluruh masyarakat yang melintasi jalan Lintas Timur ini agar memastikan kondisi kesehatannya sebelum bepergian karena keadaan banjir yang menyebabkan perjalanan menjadi lebih lama. Dia minta agar pengendara menjaga fokusnya saat melintasi jalan untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.

Untuk mengatasi permasalahan banjir di KM 83 ini, Bupati Pelalawan Zukri sudah mengajukan permintaan ke pemerintah pusat agar diberikan solusi jangka panjang.

“Untuk solusi mengatasi banjir di KM 83 ini, tahun 2024 sudah diusulkan kepada BPJN (Balai Pelaksana Jalan Nasional) Riau untuk dilakukan peningkatan badan jalan ataupun pembangunan fly over. Semoga ini segera terealisasi dan kami Pemerintah Kabupaten Pelalawan akan terus mengawal dan memfollow up permintaan ini karena jalan Lintas Timur ini merupakan satu-satunya yang menghubungkan beberapa daerah di Riau. Semoga banjir ini juga menjadi antensi pemerintah pusat karena sudah beberapa tahun terjadi dan menganggu mobilitas serta distribusi barang dan jasa,” tutupnya. (Advertorial Diskominfo Pelalawan/Noprio Sandi)

 

TERKAIT