Produksi Padi Persawahan Pebaun-Saik Kuansing Turun Drastis, Cuma Capai 589 Ton

Kadis DPTPHKP Deflides Gusni (baju putih pakai kacamata) bersama Kabid Ketahanan Pangan Sesrianti, SP, M.Si (kaus kuning bergaris pakai jilbab kuning juga kacamata) mengunjungi hamparan persawahan dan melihat pompanisasi di Desa Bukit Kauman. (Foto:

Pemda Bangun JIAT sebagai Solusi

Kuansing, Siberriau- Hasil panen petani yang berada di wilayah Desa Pebaun Hilir, Pebaun Hulu dan Saik, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau pada musim tanam (MT) tahun 2025/2026 ini mengalami penurunan cukup signifikan.

"Untuk hasil panen padi pada musim tanam (MT) 2025/2026 hanya mencapai 589, 58 ton, sedangkan pada musim tanam sebelumnya mencapai 1.457 ton," ungkap Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Ketahanan Pangan (DPTPHKP) Deflides Gusni, SP, M.Si melalui Kabid Ketahanan Pangan Sesrianti, SP, M.Si ketika dihubungi Media siberriau.com, Senin (9/2/2026).

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh situasi cuaca saat masa tanam yang didominasi kemarau sehingga pertumbuhan tanaman padi tidak berkembang secara optimal.

Selain faktor cuaca, katanya, serangan hama walang sangit juga turut memperparah kondisi pertanaman padi di lapangan. Hama tersebut menyebabkan kualitas bulir padi menurun, yang berdampak langsung pada hasil panen petani dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan data di lapangan, luas hamparan persawahan di tiga desa yang terdampak mencapai sekitar 253 hektare. Dari luasan tersebut, produktivitas padi rata-rata hanya mencapai 2,33 ton per hektare sehingga total produksi padi yang dihasilkan sekitar 589,58 ton.

Jumlah tersebut menunjukkan penurunan yang cukup tajam bila dibandingkan dengan produksi padi sebelumnya yang mencapai sekitar 1.457 ton. Dengan demikian, produksi padi tahun ini turun lebih dari separuh akibat kombinasi faktor alam, dan serangan organisme pengganggu tanaman.

Untuk mengantisipasi kondisi serupa ke depan, katanya, pemerintah telah mengambil langkah strategis dengan membangun Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT). Pembangunan ini melibatkan Dinas PUPR bersama Balai Wilayah Sungai Sumatra (BWSS), guna memperkuat pasokan air bagi lahan pertanian," tambahnya.

"Keberadaan JIAT diharapkan dapat menjadi solusi dalam menghadapi keterbatasan air saat musim kemarau, sekaligus menjaga keberlangsungan pertanaman padi agar tetap produktif meski kondisi cuaca tidak menentu," paparnya.

Selain itu, pihaknya juga turun langsung ke lapangan untuk memastikan fungsi sarana pendukung irigasi. "Dua unit pompa PU di Daerah Irigasi Kinali I, dipastikan berfungsi dengan baik untuk mengaliri air ke hamparan sawah di Bukit Kauman, Aur Duri, dan Kinali seluas 118 hektare," tuturnya. (Zar)

TERKAIT