Perahu Baghanduang Meriahkan Malam Idulfitri 1447 H, Diikuti Sekitar 15 Perahu

Perahu Baghanduang yang meramaikan suasana malam takbiran Idulfitri. (Foto: Zar)

Kuansing, Siberriau- Bagi masyarakat Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, setiap malam Hari Raya Idulfitri, selalu menggelar takbiran di masjid, musalah, surau, pawai keliling kampung maupun takbiran di sungai.

Untuk takbiran di masjid, musala dan surau dilakukan setelah Salat Magrib sampai Isya. Dilanjutkan dengan pawai takbiran keliling kampung, yang diikuti oleh murid-murid musalah dan surau baik laki-laki maupun perempuan, yang di bimbing oleh para guru musala dan surau setelah Salat Isya.

Mereka takbiran Idulfitri dengan mengagungkan asma Allah dengan berjalan kaki, yang diiringi dengan pawai obor dan kendaraan hiasan sambil membawa pengeras suara mengelilingi kampung dari satu desa ke desa lainnya, dan ada juga yang dilakukan di pusat ibu kota kecamatan maupun kabupaten.

"Pawai takbiran keliling ini diikuti oleh murid-murid musala dan surau, yang dibimbing oleh para guru musala dan surau tersebut," ungkap Ujang salah satu peserta takbiran keliling kampung.

Namun, yang paling menarik, katanya setelah takbiran keliling kampung dilakukan, maka semua peserta takbiran berkumpul di masjid, untuk penarikan door prize yang disediakan oleh panitia.

Setelah pengumuman pemenang atau penarikan door prize pawai takbiran keliling kampung selesai, sekitar pukul 22.00-23.00 WIB, maka dilanjutkan dengan pawai takbiran dengan menggunakan Perahu Baghanduang di Sungai Batang Kuantan, yang diikuti sekitar 15 perahu dari Desa Kinali, Aur Duri, Koto Lubuk Jambi, Pulau Binjai, Banjar Padang, Seberang Pantai, Sangau dan Rantau Sialang.

Pembuatan Gulang-gulang Perahu Baghanduang. (Foto: Zar).

Sangat disayangkan saat sekarang ini tidak ada lagi pawai takbiran di Sungai Batang Kuantan dengan Perahu Baghanduang. Tetapi hanya hilir ke Hulu Sungai Batang Kuantan, yang diikuti oleh generasi muda (khusus laki-laki).

Sebenarnya Perahu Baghanduang ini merupakan tradisi budaya khas Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik berupa perahu yang digandeng dua sampai tiga buah  perahu.

Perahu Baghanduang ini juga dihias meriah dengan berbagai hiasan seperti kain panjang berwarna warni, pelepah kelapa warna kuning, bambu (tonggol),  payung lima buah berwarna kuning, hitam sebagai simbol didalamnya terdapat datuk dan para penghulu serta sebagai simbol Rukun Islam.

Selain itu, juga terdapat labu air, ari -ari, padi sebagai simbol masyarakat hidup dalam bidang pertanian, tanduk kerbau melambangkan masyarakat hidup dalam bidang peternakan, kaca dan cermin sebagai simbol masyarakatnya selalu wawas diri, serta gambar presiden, gubernur dan bupati sebagai simbol pimpinan tertinggi di suatu wilayah (negara, provinsi dan kabupaten).

Sehingga setelah lewat pukul 00.00 WIB, maka Perahu Baghanduang yang telah dihias tersebut, dibawa oleh generasi muda menuju Hulu Sungai Batang Kuantan yang jaraknya sekitar dua sampai tiga kilometer.

Namun, setelah Salat Subuh, maka Perahu Baghanduang dihilir ke desa masing-masing atau tempat tambatan perahu Baghanduang tersebut berada. 

Tetapi pada saat mudik (hulu sungai) maupun hilir, maka para pemuda akan membunyikan cagak dan mercon.

"Yang sangat disayangkan, saat ini tradisi Manjopuik Limau di malam Hari Raya Idulfitri tersebut yang sudah mulai hilang," ujar Jhon. (Zar)

 

TERKAIT