Dentuman Mercon dan Cagak Menggema,

Festival Perahu Baghanduang Warisan Budaya Kuantan Mudik

Perahu Baghanduang di Kuantan Mudik Kuansing semarak Kamis (26/3/2026). (Foto: Zar).

Kuansing, Siberriau- Festival Perahu Baghanduang kembali menggema, dengan diiringi dentuman mercon dan cagak yang membahana di Tepian Muko Lobuah Sungai Batang Kuantan, Desa Banjar Padang, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Kamis (26/3/2026). 

Suasana budaya yang sarat tradisi terasa kental sejak awal acara ketika suara mercon bersahut-sahutan menjadi penanda dimulainya perhelatan yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Ratusan ribu penonton memadati tepian sungai untuk menyaksikan festival tersebut. Mereka datang dari berbagai desa di Kuantan Singingi, bahkan tidak sedikit yang hadir dari luar daerah.

"Kami datang jauh-jauh hanya untuk menyaksikan Festival Perahu Baghanduang, yang saat ini sudah menggema karena sarat dengan nilai-nilai budaya dan bukan hanya sekadar tontonan," ujar Udin dari Perawang Kabupaten Siak.

Kehadiran masyarakat yang begitu antusias menunjukkan bahwa Festival Perahu Baghanduang bukan sekadar hiburan, melainkan agenda budaya yang dinantikan setiap tahunnya.

Festival ini digelar usai perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, menjadi momentum silaturahmi masyarakat setelah menjalani bulan suci Ramadan. Tradisi ini juga menjadi ajang berkumpulnya perantau dengan keluarga, sekaligus mempererat hubungan sosial antar warga melalui kegiatan budaya yang sarat nilai kebersamaan.

Tercatat sekitar 16 Perahu Baghanduang dari delapan desa di Kecamatan Kuantan Mudik turut ambil bagian dalam festival tersebut. Setiap perahu dihias dengan ornamen khas dan diiringi tabuhan serta dentuman mercon yang menambah semarak suasana. Keunikan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang menyaksikan dari sepanjang tepian Sungai Batang Kuantan.

Lebih dari sekadar tontonan, Festival Perahu Baghanduang juga menjadi tuntunan bagi generasi muda. Tradisi ini mengajarkan nilai kekompakan, disiplin, serta penghormatan terhadap warisan leluhur. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk terus menjaga budaya agar tidak hilang ditelan zaman.

"Semangat gotong royong tampak jelas dalam setiap proses pembuatan dan penampilan Perahu Baghanduang. Mulai dari merakit perahu, menghias hingga mempersiapkan perlengkapan dilakukan bersama-sama oleh warga desa. Kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama sehingga tradisi ini tetap hidup hingga kini," ungkap Ketua Panitia Rahmat Nusi.

Festival Perahu Baghanduang pun menjadi simbol identitas budaya masyarakat Kuantan Mudik. Dentuman mercon, iringan suara, serta kebersamaan warga di tepian Sungai Batang Kuantan menghadirkan suasana yang tidak hanya meriah, tetapi juga penuh makna. Tradisi ini diharapkan terus lestari sebagai warisan budaya yang mempererat persatuan masyarakat dari generasi ke generasi," ujarnya. (Zar).

TERKAIT