Dinamika Pasar Kelapa, Antara Jeritan Petani Sungai Emas dan Koreksi Harga Global

Kelapa masyarakat yang akan di angkut ke PT. Sambu Group. (Foto: Andi Sisuanto).

Pelalawan, Siberriau– Kelapa bukan sekadar komoditas bagi masyarakat Desa Sungai Emas, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. Ia adalah urat nadi ekonomi dan penyambung hidup ribuan jiwa. Namun, memasuki pertengahan tahun 2026 ini, fluktuasi harga yang kian tajam di tingkat petani memicu keprihatinan mendalam dari Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setempat.

Ketua BPD Desa Sungai Emas, Zuhri, mengungkapkan bahwa masyarakat kini berada dalam ketidakpastian. "Kondisi pasar saat ini sangat fluktuatif. Terbaru, harga kelapa kupas licin berada di angka Rp3.280 per kilogram, sementara harga kelapa kupas jambul justru merosot tajam hingga menyentuh angka Rp2.350 per kilogram," ujar Zuhri.

Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan beberapa tahun lalu saat harga masih stabil di angka Rp4.000 hingga Rp6.000 per kilogram.

Mengetuk Nurani di Tengah Arus Bisnis
Dalam dokumen aspirasi yang disusun bersama Kepala Desa Sungai Emas, Samsuria, ditegaskan bahwa masyarakat memahami dinamika pasar. Namun, mereka berharap PT Sambu Group sebagai mitra strategis tidak hanya melihat angka dari kacamata bisnis semata.

"Kami memahami prinsip supply and demand. Namun, di balik angka-angka itu, ada ribuan kepala keluarga yang harus bertahan hidup. Kami mengetuk nurani para pemangku kepentingan agar ada kebijakan harga yang lebih stabil dan berempati pada rakyat kecil," tambah Zuhri.

Tanggapan Perusahaan: Dampak Koreksi Pasar Dunia
Merespons aspirasi tersebut, pihak manajemen PT Sambu Group memberikan penjelasan mengenai situasi yang terjadi di industri kelapa saat ini. Berdasarkan data yang dirilis melalui Antara News, tren penurunan harga kelapa ternyata dipengaruhi oleh kondisi pasar internasional yang sedang mengalami fase konsolidasi.

Executive Director International Coconut Community (ICC), Dr. Jelfina C. Alouw, menjelaskan bahwa penurunan harga merupakan proses normal setelah periode harga tinggi yang berlangsung cukup panjang pada rentang tahun 2023 hingga 2025.

“Pasar kelapa dunia sedang memasuki fase koreksi. Ini merupakan penyesuaian alami setelah periode harga yang sangat tinggi, bukan indikasi kejatuhan permanen,” jelas Dr. Jelfina dalam keterangannya.

Penjelasan teknis ini menunjukkan bahwa tekanan harga tidak hanya terjadi di tingkat lokal Pelalawan, melainkan dampak dari penyesuaian pasar global yang tengah mencari titik keseimbangan baru (ekuilibrium).

Harapan Sinergi dan Proteksi Pemerintah
Meskipun menyadari adanya faktor pasar dunia, Pemerintah Desa Sungai Emas tetap berharap adanya perhatian ekstra dari pemerintah daerah maupun pusat melalui regulasi yang lebih protektif. Masyarakat berharap sektor kelapa rakyat bisa mendapatkan pengawasan harga bawah agar fluktuasi global tidak langsung menghantam daya beli petani di tingkat tapak.

Kepala Desa Sungai Emas, Samsuria, menekankan pentingnya simbiosis mutualisme. "Masyarakat butuh perusahaan, dan perusahaan butuh pasokan dari rakyat. Kami berharap dalam fase koreksi pasar ini, sinergi antara korporasi dan masyarakat bisa tetap terjaga dengan mengedepankan komunikasi yang transparan," pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, para petani di Kuala Kampar masih menaruh asa agar stabilitas harga dapat segera terwujud kembali seiring dengan membaiknya tren pasar global di masa mendatang. (Red)

Andi Sisuanto 
Kepala Biro Pelalawan Media Siberriau.com

 

TERKAIT