Didanai APBN Rp226,9 Miliar,

Pembangunan Sekolah Rakyat di Kuansing Model Terpadu Pertama di Riau

Plt Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kuantan Singingi (Kuansing) Dodi Fitrawan, SAP (Foto: Zar).

Kuansing,  Siberriau- Pembangunan Sekolah Rakyat dengan skema sekolah terpadu dan gratis, tengah berjalan yang ditargetkan rampung Juli 2026. Sehingga dapat beroperasi penuh pada tahun ajaran 2026/2027. Dan kehadiran Sekolah Rakyat diharapkan menjadi solusi konkret dalam memperluas akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat kurang mampu. 

"Sekolah ini dibangun di atas lahan seluas 7,5 hektare dengan total 33 gedung dan fasilitas pendukung," ungkap Plt Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kuantan Singingi (Kuansing) Dodi Fitrawan, SAP., MM ketika dihubungi Media siberriau.com, Jumat (13/3/2026).

Dikatakannya, Konsep pembangunannya dirancang terpadu, mulai dari jenjang SD, SMP hingga SMA, lengkap dengan sarana pembelajaran, fasilitas olahraga, serta infrastruktur pendukung lainnya. Fasilitas utama yang dibangun meliputi gedung serbaguna, gedung SD, SMP dan SMA masing-masing dua lantai, masjid serta gedung ibadah. 

"Juga tersedia asrama putra dan putri untuk setiap jenjang pendidikan, Rumah Susun (rusun) guru, kantin di masing-masing unit sekolah, dapur umum, serta guest house," ujarnya.

Untuk menunjang aktivitas siswa dan tenaga pendidik, kawasan ini juga dilengkapi lapangan upacara, lapangan mini soccer, lapangan basket, rumah genset, rumah pompa, gudang perawatan, pos jaga, serta fasilitas parkir mobil dan motor. Tak hanya itu, pembangunan turut memperhatikan aspek lingkungan dengan adanya IPAL, instalasi limbah dapur, tempat pembuangan sampah, dan green house.

"Proyek pembangunan Sekolah Rakyat ini menggunakan sumber pendanaan tunggal dari APBN, dengan total anggaran sebesar Rp226.982.454.000,00," katanya. 

Pemerintah menegaskan bahwa penggunaan anggaran tersebut difokuskan untuk memastikan kualitas bangunan, kelengkapan fasilitas, serta keberlanjutan operasional sekolah.

Dalam upaya menjamin mutu pendidikan, pemerintah menerapkan standar tinggi dalam perekrutan tenaga pendidik dan pengelola. Rekrutmen dilakukan secara selektif melalui jalur Aparatur Sipil Negara (ASN), baik melalui CPNS maupun PPPK sehingga tenaga pengajar yang terlibat benar-benar kompeten dan profesional.

Sedangkan sistem penerimaan siswa dirancang selektif dan tepat sasaran dengan memprioritaskan keluarga dalam kategori Desil 1 dan Desil 2 pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Sehingga pembangunan Sekolah Rakyat ini membawa misi besar untuk memutus mata rantai kemiskinan, dengan memberikan akses pendidikan bermutu dan sepenuhnya gratis. Sehingga anak-anak dari keluarga prasejahtera, memiliki peluang meraih masa depan yang lebih baik dan berdaya saing," ujarnya.

Sedangkan target kuota penerimaan siswa tahun ajaran 2026/2027 berdasarkan kapasitas ruang kelas yang tersedia, setiap rombongan belajar (rombel) dapat menampung 30 siswa. Dengan total seluruh jenjang (SD, SMP, dan SMA), sekolah ini diproyeksikan mampu menampung sebanyak 270 siswa.

Menurutnya sasaran utama siswanya adalah anak berkebutuhan khusus atau keluarga prasejahtera. Hal ini karena Sekolah Rakyat adalah program pendidikan yang dikhususkan bagi anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi miskin dan miskin ekstrem. 

"Jadi kriteria utamanya adalah mereka yang terdaftar dalam Desil 1 dan 2 pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN)," paparnya.

Kemudian, mengenai seluruh biaya pendidikan di sekolah ini gratis karena sekolah ini merupakan program unggulan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. 

Fasilitas pendidikan ini bersifat gratis 100% dengan sistem asrama (boarding school). Seluruh biaya pendidikan, seragam, konsumsi hingga tempat tinggal ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah," tukasnya. (Advertorial Kominfo Kuansing/Zar)

TERKAIT