IP 200 Jadi Andalan, Produksi Beras Kuansing Ditarget Naik 7,5 Persen

Kadis Tanaman Pangan, Hortikultura dan Ketahanan Pangan Kuantan Singingi Deflides Gusni bersama Kabid Ketahanan Pangan Sesrianti, SP., M.Si dan staf. (Foto: Zar).

Kuansing, Siberriau- Program Indeks Pertanaman (IP) 200 di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) terus berlanjut, dan tetap menjadi salah satu program prioritas sektor pertanian. Pemerintah daerah berkomitmen melaksanakan program ini secara berkelanjutan sebagai upaya meningkatkan produktivitas padi dan mendukung ketahanan pangan daerah.

"Pada tahun 2026, target luas lahan yang akan melaksanakan program IP 200 diperkirakan mencapai sekitar 800 hektare. Target tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi padi, sekaligus mendorong efisiensi pemanfaatan lahan sawah yang ada," ungkap Kadis Pertanian Kuansing Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Ketahanan Pangan (DTPHKP) Deflides Gusni, SP, M.Si melalui Kabid Ketahanan Pangan Sesrianti, SP., M.Si ketika dihubungi Media siberriau.com, Kamis (5/2/2026).

Selain itu, katanya, pada tahun 2026 juga diusulkan kegiatan optimalisasi lahan (Oplah) dengan skema IP 200 seluas sekitar 3.000 hektare. Lahan Oplah tersebut direncanakan akan melalui tahapan Survei, Investigasi, dan Desain (SID) pada tahun ini sebagai dasar perencanaan teknis pelaksanaannya.

Adapun kecamatan yang direncanakan melaksanakan program IP 200 meliputi Kecamatan Benai, Kuantan Hilir, Kuantan Tengah, Kuantan Mudik, dan Singingi. Wilayah-wilayah tersebut, katanya lagi, dinilai memiliki potensi lahan sawah yang dapat dikembangkan untuk mendukung peningkatan indeks pertanaman.

Pelaksanaan program IP 200 dijadwalkan pada Musim Tanam (MT) III, yakni pada rentang bulan Juni hingga September 2026. Penjadwalan ini disesuaikan dengan kondisi iklim serta kesiapan lahan dan petani di masing-masing wilayah sasaran.

Namun, demikian, dalam pelaksanaannya masih terdapat sejumlah kendala yang dihadapi. 

Di antaranya, kondisi sawah di Kuansing yang umumnya masih bersifat tadah hujan, ketersediaan air yang belum merata sepanjang tahun, infrastruktur pertanian yang belum memadai seperti jalan usaha tani (JUT), jaringan irigasi, pintu air dan embung, serta adanya ancaman banjir di beberapa wilayah persawahan. Selain itu, penegakan penertiban hewan ternak juga belum diterapkan secara menyeluruh di semua wilayah.

Untuk mendukung keberhasilan program IP 200, pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) diharapkan dapat berperan penting pada tahun 2026. 

"Dengan adanya JIAT, sawah-sawah yang selama ini mengalami kesulitan air diharapkan dapat terairi dengan lebih baik. Secara keseluruhan, program IP 200 ditargetkan mampu meningkatkan produksi beras di Kabupaten Kuansing sekitar 7,5 persen pada tahun 2026," tuturnya. (Zar).